Majalah “Peradilan Agama” Edisi ke-3 Kian Enak Dibaca dan Bermakna

oleh : Admin_PaMgl, Kategori: Berita Peradilan, Sudah dibaca : 579 kali

Dua pekan sebelum tutup tahun 2013, majalah “Peradilan Agama” hadir kembali. Terdiri dari 100 halaman, majalah “Peradilan Agama” edisi ke-3 ini menyuguhkan tema utama mengenai babak baru penyelesaian sengketa ekonomi syariah. Versi digitalnya kini sudah dapat diunduh di Badilag.net.

“Alhamdulillah, majalah edisi ke-3 ini isinya lebih baik, dan dengan tema yang aktual. Perlu dibaca dan dijadikan bahan diskusi teman-teman di daerah,” ujar Dirjen Badilag Purwosusilo, Selasa (17/12/2013).

Sebelumnya, saat memberi pengarahan kepada Tim Redaksi seusai Diskusi Hukum putaran ketiga, 3 Desember lalu, Dirjen Badilag berharap agar majalah ini dapat memperluas cakrawala warga peradilan agama, khususnya para hakim, mengenai perkembangan ekonomi syariah dan potensi sengketanya.

Harapan Dirjen Badilag itu sekaligus merupakan sebuah tuntutan buat Tim Redaksi—yang hampir seluruhnya berstatus hakim dan bertugas di luar Jawa. Bisa tidak bisa, dalam waktu dua pekan, Tim Redaksi harus mampu menyuguhkan majalah “Peradilan Agama” edisi ke-3 secepat mungkin dan sebaik mungkin.

Karena itu, selama dua pekan, berjibakulah Tim Redaksi menyuguhkan majalah “Peradilan Agama” edisi ke-3. Satu pekan dipakai untuk menyiapkan konten, dan satu pekan lagi untuk menggarap desain. Anggota Tim Redaksi yang berasal dari daerah hanya bertugas menyiapkan konten, terutama untuk rubrik liputan khusus. Sementara penggarapan desain dipasrahkan kepada anggota Tim Redaksi yang sehari-hari berkantor di Badilag.

Barangkali kata ‘berjibaku’ itu terasa hiperbolis. Tetapi lebih kurang, memang begitulah faktanya. Proses penyajian majalah ini, mulai dari proyeksi apa saja yang akan ditulis, hingga tahap editing dan lay outing, adalah rangkaian proses yang cukup melelahkan. Itu adalah konsekwensi yang wajar dari sikap dan standar mutu yang dipilih Tim Redaksi.

Sebelum akhirnya bisa terbit, satu hal yang selalu jadi tanda tanya ialah apa nilai lebih majalah ini? Tim Redaksi tidak ingin konten majalah ini hanya perulangan belaka dari konten-konten di tempat lain, baik di buku, jurnal, majalah, koran, maupun website. Tim Redaksi juga tidak ingin isi majalah ini langsung terasa basi sesaat setelah diterbitkan. Lebih dari itu, Tim Redaksi ingin agar majalah ini kian enak dibaca dan bermakna. Ya, Tim Redaksi punya standar mutu tersendiri.

Pada edisi ke-3 ini, prinsip itu tetap dipegang teguh. Babak baru penyelesaian sengketa ekonomi syariah, yang  jadi tema sentral liputan khusus pada edisi kali ini, diupayakan agar memiliki nilai lebih. Caranya, yang disajikan tak sekadar notulensi diskusi hukum putaran ke-3 yang diselenggarakan Badilag pada 3 Desember 2013 dan ditayangkan secara live streaming itu. Tim Redaksi juga memperkayanya dengan data dan analisis.

Di samping itu, kepaduan konten juga sangat diperhatikan. Sajian pada liputan khusus ditopang dengan ulasan mengenai putusan judex jurist dan judex facti yang juga tentang penyelesaian sengketa ekonomi syariah.

Kepaduan konten itu juga dibuktikan dengan adanya wawancara khusus dengan Dirjen Badilag Purwosusilo dan Direktur Eksekutif Perbankan Syariah BI Edy Setiadi mengenai kesiapan peradilan agama mengadili perkara-perkara ekonomi syariah.

Sebagaimana pada edisi-edisi sebelumnya, ulasan mengenai putusan-putusan dari negara manca, Timur Tengah dan Barat, tetap ada. Demikian juga pandangan orang luar terhadap peradilan agama rubrik Insight.

Pada edisi kali ini, Tim Redaksi memberikan high light terhadap keadaan Mahkamah Syar’iyah yang ada di Serambi Mekkah—satu hal yang kadang luput dari perhatian kita.

Sisi-sisi positif PA Jakarta Pusat, yang mulai 18 Desember ini pindah kantor, tampil di di rubrik PA Inspiratif. Secara sepintas, Tim Redaksi juga memprofilkan ketuanya.

Tiga tokoh yang mendapat kesempatan dibiografikan pada edisi kali ini adalah Prof. Busthanul Arifin, almarhum Prof. Rifyal Ka’bah dan Dr. Adiwarman Karim.

Di luar itu, masih ada sederet sajian lain yang diharapkan Tim Redaksi dapat memberi nilai lebih kepada para pembaca, khususnya warga peradilan agama.

Tentu saja, tidak ada karya yang nir-kekurangan dan nir-kesalahan. Yang dapat diupayakan Tim Redaksi adalah meminimalkan kekurangan dan kesalahan itu, karena menihilkannya adalah usaha yang sia-sia. Karena itu, Tim Redaksi selalu menyalakan lampu hijau untuk saran dan kritik.

“Kami yakin, makin banyak masukan kepada kami, makin baiklah mutu majalah ini dari edisi ke edisi. Dan jika majalah ini kian bermutu, siapa lagi yang diuntungkan selain para pembaca sekalian?” kata koordinator Tim Redaksi, Achmad Cholil.


Print BeritaPrint PDFPDF

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar