Pengadilan Agama Magelang

pa magelang

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

PENGADILAN AGAMA MAGELANG

Pimpinan Pengadilan Agama Magelang Sampaikan Perilaku dan Budaya Anti Korupsi pada Briefing Petugas Pelayanan

Magelang – Rabu (27/4/2022), Ketua dan Wakil Ketua PA Magelang sampaikan briefing dengan tema penanaman Perilaku dan Budaya Anti Korupsi. Briefing diberikan kepada aparatur di pelayanan seperti petugas Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), SATPAM dan petugas resepsionis.

Kegiatan yang berlangsung di Media Center Lt. II tersebut , dibuka dan diawali sambutan KPA Magelang Septianah, S.H.I., M.H. Dalam sambutannya, Septianah mengajak seluruh petugas pelayanan untuk menjaga marwah pengadilan dengan menerapkan standar layanan dan perilaku anti korupsi.

“Perilaku Anti Korupsi ini dapat diterapkan di satuan kerja maupun saat tidak sedang tidak bekerja. Dengan adanya briefing ini, diharapkan aparatur PA Magelang semakin sadar untuk menjaga integritas, tidak sampai tergoda dengan pemberian dalam bentuk apapun. Karena tidak hanya mencoreng nama pribadi namun juga memberikan image yang buruk bagi lingkungan peradilan,”pesannya.

Waka PA Magelang Sapuan, S.H.I., M.H. yang juga sebagai penyuluh Anti Korupsi tersertifikasi BNSP-KPK menyampaikan beberapa paparan poin penting terkait perilaku anti korupsi. Materi bertema “Kreasi” yang merujuk pada paparan lebih lanjut yaitu “Kreatif, AntiKorupsi!”.

Aparatur Peradilan Agama memiliki andil besar dalam menyukseskan program nasional pemberantasan korupsi sebagaimana maksud Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 jo. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Lebih lanjut Sapuan menyebutkan 7 (tujuh) jenis tindak pidana korupsi sebagaimana dimaksud yaitu tindakan merugikan keuangan negara, perbuatan curang, penggelapan dalam jabatan, pemerasan, benturan kepentingan dalam pengadaan, gratifikasi, dan suap menyuap.

Dari ke tujuh golongan perilaku tersebut, gratifikasi dan suap menyuap merupakan jenis korupsi yang paling rawan terjadi di lingkungan Peradilan Agama.

“Gratifikasi merupakan pemberian sesuatu guna melancarkan niat maupun keinginan sesorang. Instansi akan memberikan penghargaan/reward tersendiri bagi aparatur yang bertindak jujur serta mau melaporkan apabila terjadi praktek korupsi.Selain itu instansi juga tidak akan segan-segan untuk memberikan hukuman/punishment bagi aparatur yang melakukan tindakan korupsi,” tegasnya.

Guna mencegah perilaku korupsi disampaikannya bahwa terdapat beberapa upaya pencegahan, diantaranya: Represif, Perbaikan Sistem, dan Edukasi.

Represif adalah tindakan tegas yang dilakukan setelah terjadinya praktek korupsi dan sifatnya berupa tindakan tegas seperti OTT (Operasi Tangkap Tangan). Sedangkan pencegahan berikutnya adalah dengan melakukan perbaikan sistem.

Briefing tersebut merupakan salah satu bentuk edukasi agar aparatur Pengadilan Agama Magelang bisa belajar dan memahami perilaku koruptif. Setelah itu diharapkan lahir sikap dan perilaku anti korupsi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.

Aparatur PA Magelang juga harus menerapkan 9 (Sembilan) Nilai Anti Korupsi yaitu jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, kesederhanaan, keberanian, dan adil. Kesembilan nilai anti korupsi ini merupakan lawan dari 7 (Tujuh) jenis korupsi yang telah disebutkan. (Bgs)

Leave a Comment