Desain tanpa judul (3)
0%
Loading ...

Pengadilan Agama Magelang

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

PENGADILAN AGAMA MAGELANG

Menjaga Marwah di Ruang Digital, Menguatkan Humanisme di Ruang Pelayanan

Kota Magelang, Rabu (26/08/2026) – Mengawali aktivitas pelayanan, Pengadilan Agama Magelang kembali melaksanakan Briefing Rabu Pagi yang dipimpin Panitera Muda Permohonan, Agung Dwi Cahya Laksana, S.H. Briefing diikuti oleh seluruh garda terdepan pelayanan, yakni PPPK, petugas PTSP, petugas Posbakum, petugas keamanan, dan petugas kebersihan.

Dalam arahannya, Agung Dwi mengingatkan pentingnya menjaga kode etik ASN, integritas, serta marwah institusi, termasuk dalam menggunakan media sosial. Di tengah dinamika politik dan beragamnya kebijakan pemerintah, aparatur diharapkan tetap bijak dalam menyampaikan pandangan serta tidak menjadikan ruang digital sebagai tempat yang dapat mencederai profesionalitas maupun kehormatan lembaga.

“Kita boleh berbeda pandangan, tetapi integritas sebagai ASN harus tetap menjadi batas dan kompas dalam bersikap, Jangan sampai satu unggahan, komentar, atau respons di media sosial justru mencederai integritas pribadi dan marwah institusi.”

Pesan tersebut menjadi semakin relevan di tengah derasnya arus informasi dan tingginya intensitas perdebatan publik. Setiap aparatur diharapkan mampu menjadi pengguna media sosial yang cerdas, santun, kritis, namun tetap bertanggung jawab.

Ia juga mengajak seluruh jajaran untuk senantiasa bersyukur menjadi bagian dari Mahkamah Agung Republik Indonesia. Rasa syukur tersebut hendaknya tidak berhenti sebagai ungkapan, tetapi diwujudkan melalui integritas, kedisiplinan, loyalitas, dan komitmen untuk mempertahankan kinerja yang selama ini telah berjalan dengan baik.

Khusus kepada petugas PTSP dan seluruh garda terdepan pelayanan, ditekankan pentingnya mempertahankan responsibilitas dan humanisme. Masyarakat pencari keadilan memiliki latar belakang dan tingkat pemahaman yang beragam, bahkan sebagian datang dengan persoalan hukum yang berat. Karena itu, pelayanan tidak cukup hanya cepat dan sesuai prosedur, tetapi juga harus menghadirkan empati, kesantunan, dan penghormatan terhadap setiap pencari keadilan.

“Masyarakat datang membawa persoalan. Maka, layani dengan profesionalitas, tetapi jangan kehilangan sisi kemanusiaan” pungkasnya.

Briefing Rabu Pagi menjadi pengingat bahwa setiap sikap aparatur adalah wajah lembaga peradilan. Menjaga etika di ruang digital, mempertahankan integritas dalam bekerja, dan menghadirkan humanisme dalam pelayanan merupakan satu kesatuan dalam merawat kepercayaan publik.